Kamis, 03 Maret 2016

DEPRESI


Ya menurut ku masa yang paling indah adalah masa dimana kita mengawali sebuah arti cinta. Belum lama ini aku teringat sebuah kisah yang dulu selalu mamah ceritakan kepada ku, kisah dimana seorang putri akan selalu hidup bahagia dengan pangeran dan keluarganya. Awalnya aku cukup mempercayai cerita tersebut tapi tidak untuk sekarang. Aku memang belum cukup tahu waktu itu, memang indah jika mengenal cinta terutama jika sudah berada dekat dengan keluarganya. Sejak itulah aku mulai mengerti tentang cinta dengan lawan jenis namun sampai detik ini juga aku belum mengerti apa arti cinta dalam keluarga. Dia adalah ayah bagi ku karena dia begitu menyayangi ku. semua sirna setelah dia meninggalkan ku.

“ Ya udah lebih baik kita putus aja

“ Ok kalau kamu maunya seperti itu, jangan ganggu aku dengan kekasih baru ku kelak

Itulah pesan terakhir yang dia kirim untuk ku, entah ini kesalahan ku atau kesalahnya aku pun tak tahu. Cinta dalam keluarga ku serasa hilang bahkan hati ku seperti mati rasa dan mata ku tak sanggup menahan tangis. Harmonis? Bahkan setelah dia pergi aku berhenti untuk menahan emosi ku, keluarga ku diambang keretakan. Seiring berjalannya waktu aku mulai tak tahan melihat pertengkaran kedua orangtua ku, aku mulai jadi gadis nakal dengan segala meniman keras ditangan ku. sebenarnya ini keluarga atau pertempuran, hal sekecil apapun akan diributkan. Aku mulai mencari dunia ku sendiri, aku mulai benci dengan kehadiran cinta. Keluarga ku hancur dari awal dan mengapa cinta ku harus hancur juga? Aku selalu bertanya-tanya dengan hal itu.

Suatu saat aku pergi dari rumah karena telinga ku mulai bosan mendengan pertengkaran mamah dan papah. Semua barang dilempar keluar rumah, bahkan tetangga yang melihatnya hanya terdiam. Tanpa pikir panjang aku mengambil tas ku dan meningalkan mereka berdua. Aku tak tahu arah tujuan, hanya berbekal tas dan uang aku saat itu. Aku mencoba menghubungi teman-teman ku, dan aku pergi kerumah herlin, dia menyodorkan ku segelas alkohol. Sepontan aku kaget, namun entah apa yang aku pikir aku tetap mengambil gelas itu. Tanpa berkata apapun aku meminum segelas alkohol itu.

                “ ada masalah apa sebenernya? “

Helin melontarkan pertanyaan yang membuat ku berhenti meminum alkohol tersebut, aku hanya menatapnya dengan sinis.

                “ cerita saja kalau ingin cerita, enggak usah liatin aku kayak gitu juga “

Aku mulai bingung  ingin menceritakan semua ini. Antara aku sangat membenci keluarga ku dan aku merindukan sosok ayah dalam hidup ku dulu.

                “ aku enggak tahu mana yang harus ku ceritakan pada mu terlebih dahulu. Aku merindukan dia, dia adalah sosok ayah yang sangat berharga dalam hidup ku, namun semua sirna sejak dia memutuskan hubungan dengan ku, ditambah aku bingung dengan keluarga ku, aku tak pernah melihat keharmonisan ada disisi keluarga ku, aku hanya melihat mereka selalu bertengkar, dan apa? Papah tak pernah mengerti keberadaan ku dirumah itu, aku adalah anaknya, tapi aku tak pernah mendapat kasih sayang darinya, bahkan mamah? Dia seperti tak peduli dengan ku. sebenarnya aku ini apa? Setiap mereka bertengkar aku selalu melihat papah mulai memukul mamah. “

Melihat ku dengan linangan air mata herlin memeluk ku, dia terlihat terenyuh mendengar cerita ku dan dia juga mengusap air mata ku.

                “ ferli aku tahu kamu orangnya memang terlalu tegar sehingga kamu bisa menyembunyikan hal sebesar ini dengan ku. aku adalah satu-satunya teman yang kamu miliki bahkan aku adalah sahabat mu, kamu sudah aku anggap seperti saudara ku sendiri, kenapa kamu baru cerita sekarang? dimanapun kamu berada bersama teman-teman, kamu selalu menampakkan senyum mu, aku juga tak pernah melihat setetes air matapun jatuh dipipi mu, namun kali ini kamu membuat ku bertanya-tanya. Bagaimana kamu bisa menyembunyikan kesedihan ini dibalik senyum mu yang indah itu? “

Air mata terus berjatuhan dipipi ku, aku tak mampu mengucap satu katapun. Hanya terdiam dan terlihat seperti orang kehilangan tujuan hidup. Herlin membiarkan ku terbaring dikamarnya dan baru kali ini aku pergi dari rumah ku sendiri. Selang beberapa saat aku mulai tertidur dengan wajah penuh dengan air mata, terdengar suara ketukan pintu namun aku tak peduli itu siapa mungkin hanya tamunya herlin. Herlin membuka pintu kamarnya, suara pintu itu membuat ku terbangun dari tidur ku. akupun mencoba membuka mata ku, saat aku tersadar yang berada didepan ku adalah mamah ku, aku segera berdiri dan menatapnya.

                “ kenapa kakak enggak pulang? Kakak udah enggak sayang sama mamah? “

Aku hanya mampu terdiam dan menundukan kepala ku, matanya berkaca-kaca setelah menanyai ku seperti itu.

                “ pulang kak, ayo pulang “

                “ enggak mah, aku benci sama papah, papah terus aja nyakitin mamah dan papah juga enggak pernah sayang sama aku, apa lagi mamah, kapan mamah peduli sama aku? “

                “ kalau mamah enggak sayang kamu, ngapain mamah cari kamu sayang, kamu anaknya mamah, sebagai orang tua mamah sangat menyayangi mu, dan tentang papah sejak dulu papah memang seperti itu, mamah bertahan dirumah itu karena mamah mempertahankan anak mamah, bukan karena rasa cinta mamah, sekarang kakak pulang ya? Mamah khawatir sama keadaan kakak, ayo pulang sayang “

                “ buat apa aku pulang kalau sikap papah kayak gitu mah? “

                “ fer bukan aku ikut-ikut ya? Kamu mending pulang aja, kasian mamah kamu udah sampe nangis-nangis gitu mohon-mohon biar kamu pulang “

Setelah perdebatan itu akupun pulang kerumah, dan baru kali ini aku merasakan bahwa mamah benar-benar menyayangi ku. sekarang aku mulai mengerti bagaimana keberadaan cinta dalam keluarga, setidaknya aku masih memiliki mamah yang masih mampu menyayangi ku.

Selang beberapa hari aku melihat mamah bertengkar lagi dengan papah, papah melempari mamah dengan gelas kaca, dan mengusir mamah. Dengan segelas menuman beralkohol aku melupakan kejadian tersebut. Alkohol adalah cara ku melupakan masalah.

Sore ini aku pergi ketempat biasa, dunia luar sedikit mengisi otak ku.

                “ gimana perkembangan rumah fer? “

Herlin menghampiri ku dan menyodorkan ku segelas minuman berakohol, setiap dia memberikan segelas minuman itu aku selalu menatapnya sinis dan mengambil gelas itu.

                “ sebenernya kamu kenapa sih? Tiap ngeliat aku diem kayak gini mesti nyodorin minuman kayak gini dan kamu bahkan enggak minum sama sekali? “

                “ aku cuma pengen kamu jujur aja sama aku, habis kalau bukan gara-gara minuman itu kamu enggak mau jujur sama aku “

                “ sudah ku duga kalau seperti itu, tanpa minuman ini mungkin sekarang aku bisa hidup “

                “ rumah makin kacau her, aku enggak tahu harus gimana lagi, jujur saja aku sudah bosan dengan semua ini “

                “ kamu sabar aja, layaknya mamah mu yang bertahan dirumah itu karena anaknya, kamu juga bertahan dirumah itu Karena mamah mu “

Dengan meneguk air dari gelas yang diberikan herlin aku mulai berfikir kalau tidak ada gunanya juga kalau aku terus menghindar dari rumah itu.

Pagi ini aku tak mendengar ocehan dari siapapun, rasanya tenang dan damai.

                “ fer? “

Merupakan hal baru ketika papah memanggil ku, aku pun menghampirinya. Dia meminta ku untuk membantunya menggeser tempat tidur, namun apapun yang ku lakukan salah dimatanya. Dia memukul ku, bahkan dia juga memaki-maki ku. tetesan air mata membasahi pipi ku lagi, aku mulai tak peduli dengannya dan aku memasuki kamar ku sendiri. Tega-teganya dia melukai darah dagingnya sendiri, sebenarnya ayah macam apa dia itu?! Apakah jika aku mengakhiri hidup ku semua akan selesai? Tak ada lagi cinta lawan jenis yang terus menyakiti ku dan tak ada lagi cinta keluarga yang melukai hati ku.

Pagi buruk ku alami pagi ini, aku hanya terdiam dalam sebuah forum kecil-kecilan ini. Sosok dia hadir didepan ku, entah aku hanya berhayal tentang dia namun semuanya tanpak nyata.

                “ kamu sekarang bau alkohol fer “

Aku kaget dengan hayal ku, dan aku mulai tersadar bahwa yang ku lihat benar-benar dia bukan hayalan.

                “ kamu “

                “ iya ini aku, gimana kabar kamu? Kayaknya buruk ya? Gimana kabar keluarga? “

                “ keluarga ku hancur “

                “ jangan sedih ya, kamu bisa cerita sama aku kok “

Setalah pertemuan itu aku mulai sering berhubungan dengannya, kenangan demi kenanangan mulai bermunculan, rasanya cinta ku kembali, saat bersamanya sejenak aku melupakan masalah yang ada dikeluarga ku. bunga bertebaran lagi dihati ku, badai mulai berganti pelangi dan aku sangat bahagia.

                “ sejak kapan kamu mulai mengomsumsi alkohol fer? Kok sekarang kalau ketemu aku wangi mu bukan alkohol lagi? “

                “ sejak kamu ninggalin aku dan aku mulai kehilangan sosok ayah dalam hidup ku, dan sejak itu juga keluarga ku mulai diambang keretakan “

                “ maafin aku ya? “

                “ enggak usah minta maaf, kamu enggak salah kok “

Kurang lebih 1 minggu aku mulai berhubungan lagi dengannya, aku pikir dia kembali benar-benar untuk ku, ternyata dia hanya mengisi waktu luangnya saja. Aku melihatnya bersama wanita lain, awalnya aku sama sekali tak curiga namun semakin hari dia semakin berubah dan hari berikutnya aku melihatnya memeluk dan mencium kening wanita yang sama seperti yang ku lihat kemarin. Hati ku kembali hancur, aku yang telah rela berubah untuknya namun dia menyakiti ku lagi, apa sebenernya salah ku dalam dunia ini? Bukan dihubungan ku namun juga dikeluarga ku.

Pipi ku mulai basah kembali kali ini ku habiskan hari ku dikamar sambil meminum gelasan air alkohol, ku lakukan ini terus menerus, aku tak pernah lagi keluar kamar ataupun keluar rumah. Sampai saatnya mamah mulai curiga dengan kamar ku. mamah memasuki kamar ku sambil membawakan sarapan ku.

                “ fer? “

Aku hanya duduk disudut kamar ku dengan mata mulai membiru dan tangan memegang botol alkohol.

                “ ferli? Kamu kenapa sayang? Kamu minum terlalu banyak nak “

Dengan keadaan setengah sadar aku mencoba berdiri. Aku melembar botol kaca yang ada ditangan ku kearah cermin dimeja rias ku.

                “ mah, aku ingin keadilan, mana keadilan ku yang dulu mah! Aku benci keluarga ini mah! Aku benci cinta mah “

                “ siapa lagi yang menyakiti kamu? Papah? Atau laki-laki itu lagi sayang? Bilang sama mamah jangan bikin mamah khawatir seperti ini sayang “

Tanpa melihat mamah yang menangis dihadapan ku, aku merai pecahan kaca. Dengan sadar aku berjalan dan menginjak pecahan-pecahan kaca yang lain. Mamah terus saja menangis ku, dank u goreskan kaca yang ku ambil kepergelangan tangan ku.

                “ FERLI!!! “

Mamah berteriak sambil berlari menghampiri tubuh ku yang hampir terjatuh kelantai. Mungkin kaki mamah juga terluka layaknya aku, mamah sangatlah menyayangi, dia adalah makhluk tuhan yang paling berharga namun aku juga manusia, aku juga punya puncak kejenuhan untuk hidup dalam keluarga yang tidak harmonis dan terlalu sakit untuk menjalin hubungan cinta dengannya.

Aku dilarikan dirumah rumah sakit, namun tuhan tidak menghendaki keinginan orang tua ku. aku akan pergi selamanya, mamah jaga diri ya? Setelah aku pergi aku ingin mamah selalu bahagia bersama papah. Maafin ferli belum mampu membahagiakan mamah, dan untuk kamu semoga kamu bahagia dan jangan pernah lupakan orang paling berharga dalam hidup mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar