Sabtu, 16 April 2016

RASA INI


Mungkinkah aku dapat melawan rasa sakit ini? penyakit yang terus mengerogoti tubuh ku. sudah lebih dari 2 tahun aku menahan rasa sakit ini, sekarang usia ku kurang lebih hampir menginjak 17 tahun. Keyla Flora Ratuhela ya itulah nama ku, nama yang indah untuk gadis yang indah, namun nama itu tak begitu indah untuk hidup ku. tak mudah melawan penyakit ku selama 2 tahun belakangan ini, dan hari ini adalah hari pertama ku bersekolah setelah 1 minggu ku habis waktu ku menginap di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan khusus.

Obat obat dan obat, 1 kata yang membuat ku sudah sangat bosan. Penuh pengawasan setiap kali aku pergi keluar rumah, ya beberapa waktu ini aku benar-benar merasa terkekang. Tapi sudahlah semua dilakukan karena mereka menyayangi ku, dan ini adalah hari pertama ku bersekolah.

                “ flo?? Gimana keadaan kamu “

Baru saja kaki ku kulangkahkan kedepan gerbang sekolah, semua sudah menanyakan hal tersebut.

                “ ya seperti inilah “

                 “ flo? “

Siapa lagi kau bukan gilbard alexandro briand dia adalah satu-satunya teman laki-laki ku disekolah ini. Aku sering memanggilnya briand, menurut ku dia manis dan menurut ku dia tampan juga. Emm ya sudahlah jangan membahas perasaan ku dengannya. Hari ini ku lewati hari bersama teman-temanku seperti biasanya. Tertawa bersama dan berhagia bersama itulah rasa persahabatan yang selalu kami rasakan.

                “ pagi flo? Udah minum obat? “

Hari telah berganti, setiap pagi bertemu dengan ku, dia selalu menanyakan hal tersebut. Hal terindah selama beberapa hari ini, keadaan ku semakin membaik dengan keberadaannya. Aku juga semakin rutin untuk menjalani kontrol dari dokter. Dunia ku berubah 180° sejak dia hadir mewarnai hidup ku.

                “ flo? Aku mau bicara sesuatu dengan mu “

Dia memegang tangan ku dengan sangat hangat, nampaknya dia benar-benar ingin membicarakan hal yang penting. Apakah dia akan meninggalkan ku? tangan ku menjadi dingin karena melihat mukanya yang serius.

                “ flo? Setiap bersama kamu rasanya aku menjadi bahagia, em flo? Bunga ini sebagai tanda kalau aku menyayangi mu, dan maukah kamu jadi pacar ku?”

Seperti apa aku sekarang bukanlah hambatan untuknya, jujur saja aku juga menyayanginya bahkan sejak awal aku bertemu dengannya. Alasan ku menolaknya cukup sulit, hati dan perasaan ku tidak ingin berbohong kepada siapapun.

                “aku bersyukur jika kamu ingin menjadi pacar ku, namun apakah kamu juga ingin memiliki aku dengan keberadaan sakit ku?”

                “aku menyayangi mu apa adanya diri mu bukan karena apapun yang sedang kau alami”

Aku tersenyum melihat jawabannya kali ini dan tanpa basa basi aku menganggukan kepala ku pertanda aku menyetujui pembicaraan kami. Tanpa ku sadari ketika briand memeluk ku hidung ku mulai mimisan lagi.

                “hidung kamu flo?”

Aku segera membersihkan hidung ku dengan tisu. Ya mukanya terlihat khawatir, manis wajahnya semakin terlihat ketika dia membantu membersihkan darah yang mengalir dihidung ku. entah aku harus bahagia atau bagaimana, disisi lain aku sedih karena aku mulai mimisan lagi dan disisi lain lagi aku bahagia karena aku telah memiliki briand dalam hidup ku.

Hari demi hari berlalu 3 bulan sudah ku lalui bersamanya, teman-teman dan keluarga ku. ketika aku mulai tersadar diri ku yang dulu telah berubah. Helai demi helai rambut ku mulai rontok, mungkin sekarang ku belum sepenuhnya menghilang dari kepala ku namun apakah aku akan terus seperti ini? Terapi yang ku jalani menyebabkan ini semua terjadi.

                “flo? Bagaimana keadaan mu saat ini? Apa yang kamu rasain kali ini?”

Dokter selalu menanyakan hal yang sama setiap kali selesai terapi, dan seperti biasanya aku hanya terdiam.

Teman-teman ku mulai mengkhawatirkan tentang keadaan ku termasuk briand yang selama ini menjadi kekasih ku. kalau memang sudah rencana tuhan pasti semuanya akan adil.

Ku jalani hari ku seperti biasanya, ku lalui hari ku seperti biasanya namun yang tidak seperti biasanya adalah ketika briand memberikan ku sebuah kejutan. Kejutan pertama yang telah ia berikan mungkin akan menjadi kejutan terakhir dalam hidup ku.

                “selamat hari jadi kesekian kalinya sayang”

Sekuntum bunga mawar yang ia berikan kepada ku seperti saat pertama kali ia menyatakan perasaannya kepada ku. saat aku menundukkan kepala ku untuk mencium bunga itu, setetes darah jatuh membasahi kelopaknya. Darah mengalir kembali dari hidung ku, ya kepala ku terasa pusing dan semuanya terasa mati rasa. Mata ku mulai berkunang-kunang dan sesaat semuanya menjadi gelap.

Aku dilarikan dirumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Briand mulai terlihat khawatir lagi, dia mencoba menghubungi keluarga ku. sesaat setelah itu kedua orangtua ku datang dan mereka memindahkan ku kerumah sakit biasa aku dirawat.

Kalau aku mampu berharap kembali aku ingin menikmati kebahagian ini kembali namun jika aku tidak dapat merasakannya aku hanya ingin mereka semua tetap dalam kebahagian ini meski tanpa ku. pendarahan hebat mulai ku alami, dan rumah sakit ini sedang kekosongan stok darah yang ku miliki. Golongan darah yang ku memiliki berbeda dengan yang dimiliki kedua orangtua ku.

                “kami membutuhkan golongan darah A+”

Mamah menjadi histeris karena golongan darah yang ia miliki tidak cocok dengan ku. melihat mamah yang seperti itu rasanya aku ikut menangis, aku belum dapat membahagiakannya namun aku malah membuatnya terluka. Kini aku mengalami masa kritis dokter berkata jika hari ini darah tidak didapatkan maka semuanya hanya bisa pasrah.

                “ambil darah saya saja dok”

Siapa lagi kalau bukan pahlawan kesiangan yang selalu menolong ku. mungkin darah kami cocok karena dulu dia bercerita tetang darahnya yang mirip dengan ku. briand langsung bersedia mendonorkan darahnya untuk ku. semua usaha telah mereka lakukan untuk ku, disini aku hanya mampu bertahan berkat kalian.

Jika aku akan dilahirkan kembali jangan beri sakit ini kepada ku lagi, namun jika semua ini tidak terjadi aku akan pasrah dan menitipkan mereka semua. Dokter telah menyalurkan darah itu kedalam ku, responnya cukup baik. Tiga hari sudah aku menjalani masa kritis ini, tubuh ku semakin melemah walau banyak orang yang selalu menyemangati ku. aku ingin berjalan digelapnya malam dan derasnya hujan sendirian tanpa siapapun menemani ku. mungkin disinilah kita akan berpisah, briand aku menyayangi mu namun semua berkehendak lain. Mamah papah aku juga menyayangi kalian apa lagi kalian teman-teman yang selalu memberi semangat kepada ku. detak jantung ku mulai melemah dan disini juga aku akan mendengar isak tangis kalian, maafkanlah aku semuanya.

Dokter telah menyatakan aku telah tiada, tinggallah goresan nama ku kini. Mamah menangis tak henti-hentinya dan briand, seorang briand menangis? Apakah ini mungkin? Dia tampak murung melihat keadaan ku yang sudah tertutup kain. Semua tangisan itu membuat ku tak ingin pergi namun apa boleh aku tak mampu berbuat apa-apa lagi.

Bertahan dalam sebuah imajinasi memang sulit terlebih bertahan dalam kenyataan seperti ini. Aku tidak akan mampu bertahan jika kalian tidak menginginkan ku berada disamping kalian. Penyakit ini bukan rintangan yang sulit untuk ku taklukkan karena kalian selalu bersama ku. terimakasih atas semangat kalian, aku akan mengenang kalian dalam bulatan-bulatan awan besar yang menghiasi mentari dipagi hari. Mungkin aku dan dia hanya untuk saat ini namun cinta kami akan tetap selamanya.

2 komentar: