Rabu, 21 Desember 2016

MOM



Ketika aku harus lahir didalam keluarga sederhana bagi ku itu adalah musibah. Ya, aku adalah claudia anastasya feronika tersyana nama yang indah untuk kehidupan ku yang tidak pernah indah. Orangtua ku adalah seorang pedagang kecil yang memang tak memiliki harga sepersenpun. Memang mereka tak memiliki apapun yang aku inginkan namun setidaknya mereka berusaha menuruti apa kemauan ku.
Suatu ketika aku membentak mereka dengan kata-kata yang kasar hingga mereka benar-benar tak bisa berkata apapun lagi.
                “ aku ingin uang “
                “ uang? Untuk apa lagi sayang? “
                “ sudahlah beri saja aku uang! “
                “ ibu sudah tidak ada uang sayang, ayah juga sedang tidak kerja “
                “ halah cuma uang aja susah! Dasar orangtua tidak becus! Sebenernya aku anak siapa? “
                “ kok kamu ngomong seperti itu sih sayang? Kamu anak ibu sama ayah “
                “ ah sudahlah, kalau memang tidak ingin memberi ku uang aku akan pergi, malu bu punya orangtua seperti kalian! Semua teman ku memiliki harga berlimpah sedangkan kalian? 100 perak saja tidak punya! “
                “ ibu akan berusaha cari uang buat kamu sayang “
Tanpa mendengarkan colotehannya aku mengemesi barang-barang ku dan pergi meninggalkan mereka digubuk yang sudah terbilang reyot ini. Aku akan tinggal bersama teman ku yang kaya, aku tidak akan peduli dengan mereka.
1 minggu telah berlalu, aku sekarang tinggal bersama franciska. Disini aku dianggap seperti anak sendiri bahkan kekayaan yang franciska miliki juga menjadi milik ku.
                “ fero? Apa kamu tidak merindukan orangtua mu? “
                “ tidak sama sekali ma, aku membenci mereka “
Setelah percakapan itu, aku dan franciska pergi untuk kuliah. Saat kami turun dari mobil aku melihat tukang sapu jalan yang mirip sekali dengan ibu. Entah itu halusinasi ku atau memang kenyataan. Dengan sambutan dari tiupan angin aku menuruni mobil bersama franciska. Seperti angin memanggil nama ku dan terdengar semakin keras.
                “ fero “
Ternyata tukang sapu jalan tadi yang memanggil ku, saat aku memperhatikan dengan jelas itu benar-benar ibu. Tanpa berpikir panjang aku berlari kearah jalan raya ibu tetap mengejar ku, tanpa aku sadari tetap didepan ku mobil melaju cukup kencang. Karena kaget aku berteriak dengan kencang berharap ada seseorang yang menyelamatkan ku. Namun alhasil kecelakaan meninpa ku, ibu yang melihat ku langsung berlari kearah ku dan segera memeluk ku sambil berteriak minta tolong.
Cukup banyak darah yang ku keluarkan, ibu memutuskan untuk mendonorkan darahnya untuk ku. Tanpa aku sadari kebiasaan ku meminum alkohol bersama teman-teman merusak jantung ku, sehingga butuh pengganti agar aku tetap hidup. Tanpa disangka-sangka setelah berpikir panjang ibu mendonorkan jantungnya untuk ku, dengan atau tanpa izin ayah. Denga menulis sepucuk surat untuk ku yang dititipkan kepada ayah ibu mulai berpamitan dengan semua orang.
Aku mulai tersaadar setelah 3 hari praoperasi, ayah datang dan memberika surat itu kepada ku. Aku segera membacanya ditemani ayah.
             Semua usaha telah ibu lakukan untuk mu fero, ibu tidak pernah meminginginkan sedikitpun balasan dari kamu. Cukup ibu tau bahwa kamu bahagia dengan apa yang ibu usahakan untuk mu. Dari kecil ibu yang selalu memanjakan mu karna kamu adalah pelita hidup ibu sayang. Dalam hati kecil ibu, ibu sangat menyayangi ku apakah kamu juga menyayangi ibu sayang? Mungkin ini adalah jalan terakhir yang bisa ibu lakukan untuk membahagiakan mu. Setelah ibu mendonorkan darah untuk mu tolong terima jantung ibu untuk tetap menghidupkan mu. Segala usaha telah ibu lakukan untuk mu fero, sampai kapanpun kamu tetap anak kesayangan ibu. Setelah membaca surat ini tolong bantulah ayah mu karena jika bukan kamu yang membantunya siapa lagi? Ibu juga sudah tidak ada sayang. Ibu sayang sekali dengan kamu cloudia anastasya feronika tersyana. Dengan adanya jantung ibu ditubuh mu ibu akan tetap hidup, ibu tetap bisa melihat mu bahagia.
Setelah membaca surat ini tetesan air mata mulai mengaliri pipi ku, beribu sumpah dan kutukan hidup ku kini. Ayah memeluk erat tubuh ku seakan dia meredamkan tangisan ibu saat ku bentak seperti biasanya. Aku benar-benar merasa kehilangan sosok orang berharga dalam hidup ku, jika aku bisa berharap aku ingin tuhan mengembalikan ibu ku, aku berjanji tidak akan menuntut sesuatu lagi darinya, aku tidak akan membentaknya, bahkan akan ku akui bahwa dia adalah ibu ku, ibu yang membesarkan ku. Namun semua hanya ilusi yang terjadi sudah terjadi tepat didepan mata ku.
Untuk ibu maafkan anak mu ini , yang selalu membentak mu, yang selalu membuat mu bekerja keras, yang selalu membuat mu menangis. Ibu dibalik sikap ku yang kasar aku memiliki rasa sayang terhadap ibu. Sekarang rasa penyesalan kupun sudah terlambat semua terjadi begitu cepat karna sikap egois ku ini. Ibu tenanglah disana aku berjanji aku bisa membuat ibu bahagia. Jika aku memilhat kelangit aku ingin ibu menjadi bintang yang paling terang dalam malam ku.

#happymotherday
#untuk kalian yang belum kehilangan ibu kalian bahkan jangan pernah mau kehilangan sosok ibu bagi kalian karena ibu adalah pahlawah kemarin, hari ini , esok, lusa, dan selamanya.
#cerita hanya fiktif ya buat kalian hormatilah orangtua kalian sesulit apapun mereka, mereka tetap orangtua kalian yang benar-benar menyayangi kalian apa adanya

Selasa, 09 Agustus 2016

RAIN



Rain itulah nama ku, sejak dia memutuskan hubungan dengan ku aku lebih memilih hujan untuk menjadi teman ku. Nama ku adalah kisah indah bagi ku, hujan selalu memberiku cerita barunya. Sekitar 6 bulan yang lalu aku dipertemukan dengan seseorang yang pernah aku lihat namun tidak aku kenal. Aku bertemu dengannya ketika upacara pemakaman salah seorang saudara teman ku, kebetulan aku tidak tahu menahu tentang jalan menuju pemakamannya, begitu pula dengannya. Kami basah kuyup diterpa hujan yang begitu lebat. Sampai-sampai dia mencoba menghubungi salah seorang teman ku. Jeng-jeng dan temannya juga teman ku, ya semua begitu cepat 6 bulan sudah kami tidak bertemu lagi.
Waktu itu hujan kembali turun, payung ku terbang mengenai wajah seseorang. Aku sangat malu akan hal ini.
                “ maaf maaf aku enggak sengaja, maaf “
Ku tundukkan kepala ku untuk mengambil payung ku kembali.
                “ serasa mengenal mu “
Suara yang ku dengar saat ini hampir mirip dengan suara yang ku dengar dulu. Aku menjatuhkan payung ku lagi ketika aku melihatnya.
                “ kamu? “
                “ bener kamu, lama enggak ketemu”
Dihujan lebat seperti ini kami malah mengobrol hal yang tidak jelas dengan udara sedingin ini. Sampai detik ini aku belum mengenalkan, namanya saja aku belum tahu.
Sampai suatu waktu mempertemukan kami kembali, aku datang bersama teman-teman ku untuk makan bersama kebetulan dia juga diundang dalam acara ini. Reyhan ya akhirnya aku tahu namanya, kita mendadak menjadi sering bertemu karna kebetulan teman-teman sering mengadakan acara.
                “ sini minta pin mu “
                “ buat apa coba? “
                “ isi-isi kontak “
Obrolan kami semakin menyatu, kami semakin akrab dan semua orang tahu akan hal itu.
                Dibawah teriknya matahari dan sedikit awan mendung disebelah utara aku mencoba menikmati udara kali ini dengan berjalan-jalan. Kepala ku sedit pusing entah karena apa, pandangan ku juga sedikit kabur.
                “ rain? Hidung mu? “
Aku hanya mampu mendengar suaranya dan aku jatuh pingsan disabut datangnya hujan. Aku berada jauh dari rumah dan untuk pertama kalinya aku jatuh pingsan. Aku tidak tahu ada apa dengan kondisi ku, tidak seperti biasanya keadaan ku seperti ini. UGD? Untuk pertama kalinya aku masuk keruangan ini. Aku dirawat dengan beberapa selang-selang yang menempel pada tubuh ku. Kurang lebih 2 hari aku mengalami masa kritis ku, akupun tersadar pada waktu itu. Hanya ada reyhan yang ada didekat ku, dia tidur dibagian samping tempat tidur ku. Ku usap kepalanya dengan beberapa pertanyaan yang terfikir dalam benak ku. Dia terbangun dan langsung mencium tangan ku.
                “ kamu udah sadar? Kamu enggakpapa kan? “
Aku hanya menggelengkan kepala ku, dia mencium kening ku. Aku terdiam beberapa saat melihat mukanya yang cemas.
                “ rey? “
                “ iya rain? “
                “ aku kenapa? “
Dia terdiam dan nampak bingung mendengar pertanyaan ku. Aku sakit apa? Aku kenapa? Aku semakin dibuat takut dengan muka panik reyhan.
                “ istirahatlah, jangan terlalu mikirkan hal yang tidak penting “
Kurang lebih aku dirawat 5 hari, setelah ini aku diperbolehkan pulang. Aku sudah tidak sabar ingin melihat hujan ku.
                Hari kepulanga ku datang disaat aku menginjakkan kaki ku kepintu keluar hujan turun. Mama, papa, dan rayhan berusaha melindungi ku dari hujan.
                “ hujan adalah kehidupan ku, biarkan aku basah terkena hujan “
                “ masuk mobil sayang “
Kali ini semua tidak mengijinkan ku menyentuh apalagi mendekari hujan. Entah apa yang terjadi aku tidak mengerti sama sekali, sebenarnya apa yang terjadi pada ku saat ini.
                “ rain? “
                “ iya ma? “
                “ jauhi hujan, jangan pernah hujan-hujan lagi, mama, papa, dan reyhan tidak ingin kamu kenapa-kenapa, ingat itu rain “
                “ tapi kenapa ma? Rain suka hujan “
                “ rain sudahlah turuti apa kata orang tua mu “
Ini semua semakin enggak jelas dan aneh. Aku semakin dibuat bingung dengan semua ini. Sejak aku mendadak sakit aku benar-benar jauh dari hujan, aku hanya mampu memandangi hujan dari sudut jendela kamar ku.
                “ ray, kita dipertemukan ketika hujan datang, namun kenapa sekarang aku harus menjauhi hujan? Hujan adalah kehidupan ku ray “
Rayhan yang baru saja membuka pintu kamar ku manaruh teh panas ditangan ku dan mendekap ku.
                “ rain, aku tahu kamu suka hujan, bahkan rasa suka mu terhadap hujan lebih dari segalanya, tapi dengarkan kami, kami tidak ingin kamu terbaring lagi rain, kami tidak ingin melihat kamu seperti saat itu lagi rain “
Tanpa sadar aku menjatuhkan teh yang diberikan rayhan kepada ku, kepala ku mendadak pusing lagi dan penglihatan ku mulai buram lagi, kali ini aku merasakan ada cairan yang melewati hidung ku.
                “ rain sadar rain, rain “
Samar-samar aku masih mampu mendengar suara rayhan namun sesaat semua sunyi tanpa suara dan bayangan apapun. Sepertinya sakit ku mulai parah, aku jadi sering mimisan dan pusing mendadak. Semua kesengan ku terhadap hujan terbuang sia-sia, kenangan bersamanya juga mengenai hujan. Saat ini aku siuman lebih cepat dari biasanya, dokter hanya tersenyum setiap kali melihat ku.
                “ rain jaga kesehatan ya “
Setiap kali aku pergi kerumah sakit kata-kata itu yang selalu dokter katakan kepada ku. Orang tua ku pergi keluar untuk menemui dokter dan setiap kali aku tersadar hanya ada rayhan disisi ku.
                “ rain? “
                “ ray? Ada apa dengan ku sebenarnya? Katakan apa yang terjadi dengan ku “
                “ rain jangan menangis seperti ini “
Setiap kali air mata ku menetes rayhan selalu mendekap ku dan berkata KAMU BAIK-BAIK SAJA. Aku tidak mengerti kenapa semakin hari kondisi ku terasa semakin lemah.
                Hari berganti, keadaan ku semakin lemah, lebih lemah dari hari sebelumnya. Ya sekarang berjalan saja aku tidak mampu, kemanapun aku, dimanapun aku, aku selalu bersama rayhan. Saat itu kami sedang berada ditaman, udaranya cukup segar seperti terakhir aku kesini sebelum aku keluar masuk rumah sakit. Ditengah taman aku melihat awan mendung, aku yakin akan turun hujan.
                “ rain aku punya kejutan untuk mu “
Raihan menyembunyikan tangan kanannya dibelakang badannya. Dikeluarkannya serangkaian bunga mawar yang kini berada ditangan ku, dia memegang tangan ku dan mengatakan.
                “ would you be marry me? “
                “ tapi ray... “
                “ aku tidak peduli dengan segala kekurangan mu sekarang rain “
Dia mengeluarkan cicin yang begitu indah dari kantongnya, aku hanya mengganguk dan dia pasangkan cicin itu dijari manis ku.
                “ I LOVE YOU RAIN “
Disaat aku menutup mata hujan turun, rayhan panik karena aku basah terkena hujan. Kebahagiaan ku disambut dengan hujan. Kami pulang dengan basah kuyup dan mama mulai memarahi ku. Mama menarik rayhan kedapur, karena penasaran aku mengikuti mereka.
                “ kenapa kalian bisa basah kuyup seperti ini? Apa kamu lupa rain tidak boleh sampai kehujanan “
                “ maaf tante aku enggak bermaksud membuat rain basah kehujanan, aku tadi mencoba melamar rain “
                “ apa? “
                “ aku sayang rain tante, aku ingin menyatu dengannya “
                “ rain sakit parah, bahkan keadaannya semakin memburuk, kenapa kamu ingin menikahinya? Jangan buat tante seperti ini ray “
                “ maaf tante aku yakin rain bisa sembuh “
                “ ma aku sebenernya sakit apa? “
                “ rain? “
                “ eee tante akan ijinkan kamu menikahi rain secepatnya “
                “ mama jawab pertanyaan rain “
                “ mama akan siapkan pesta terbaik untuk kamu “
Mama seperti membisu dengan keadaan ku. Hari pernikahan ku telah ditentukan akupun lebih sehat hari demi hari. Sampai hari pernikahan aku tetap semakin pulih, bahkan kini aku sudah mampu berjalan.
                “ rain? Mama dan papa menyayangi kamu “
                “ rain juga ma, pa “
Dengan keadaan ku yang semakin membaik kami melangsungkan pernikahan dan kami sudah sah menjadi sebuah keluarga baru.
                “ aku bahagia ray “
                “ aku lebih bahagia rain “
Pernikahan kami diadakan diluar gedung, suasana mendung dengan rintikan hujan menyambut bahagia menyatunya hubungan kami. Penyakit ini datang begitu saja, kepala ku sakit tidak seperti biasanya. Aku berusaha menguatkan diri agar tidak jatuh pingsan. Namun usaha ku sia-sia darah membasahi baju pengantin ku. Hujan turun menjadi sangat lebat, kepala ku semakin tidak mampu bertahan, penglihatan ku juga menjadi hitam. Jatuh dipelukan rayhan, mungkin sudah kesekian kalinya. Aku dilarikan kerumah sakit dengan masih menggunakan baju penggantin ku. Penyakit ini benar-benar datang disaat yang tidak tepat. Hujan kali ini yang ku rasakan mungkin adalah hujan terakhir dalam kehidupan ku. Hujan yang paling indah dimana aku telah di menjalin hubungan keluarga dengan orang yang telah tulus mencintai ku. Terimakasih hujan atas semua memori tentang semua ini, aku akan selalu ingat masa indah saat bersamanya ketika kau juga menemani kami hujan. Sampai nafas terakhir ku ini hujan selalu mendampingin ku.
                “ maaf kami sudah berusaha namun rain tidak bisa kami selamatkan “
                “ rain!!! “
Teriakan itu masih terdengar walau nafas ini sudah tidak mampu menghirup udara lagi. Hujan memberiku sebuah cerita tentang masalalu dan hujan yang selalu menemani ku disaat ketepurukan itu. Hujan adalah nama ku dan hujan adalah cerita ku. Selamat tinggal hujan, terimasih atas segalanya.

BUNDA



Tangan yang mungkin sudah tidak mungkin melakukan pekerjaan keras dan tubuh yang semakin menua. Dia bekerja keras demi sebuah kata “keluarga” , keluarga yang belum tentu membuatnya bahagia, keluarga yang belum tau apa arti kerja kerasnya, dan keluarga yang belum tentu tau bagaimana rasanya menjadi dia.

Rambutnya yang mulai memutih diusianya yang mulai senja membuat ku berpikir dua kali, apakah layak seorang anak membentak orangtua setegar dia. Dia bekerja keras setiap hari, memberi makan keluarga hanya dengan nafkah 15.000,- setiap hari dari suaminya. Hati ku semakin kecil dan mengurungkan niat ku untuk marah padanya.

Pagi itu karna terburu-buru aku membentaknya, aku hanya memikirkan ego ku saja, aku tidak memikirkan bagaimana hati kecilnya terluka mendengar perkataan ku. Belum sempat ku katakan maaf sepertinya dia melupakan hal tersebut. Bagi ku dia adalah malaikat tanpa sayap, dia berjuang sendirian demi kedua anaknya yang semakin hari semakin tumbuh besar. Tanpa memikirnya bagaimana sikap suaminya yang semaunya sendiri dia mencoba tegar. Sering ku dengar pertengkaran mereka, saat itu usia ku baru menginjak 12 tahun, setiap ku dengar pertengkaran mereka aku tak pernah pulang kerumah. Ya, hanya sosoknya yang mencari ku, mencari keberadaan ku. Setelah itu ku sadari bahwa dia tulus menyayangi ku dan hanya aku sandaran penguat dalam hidupnya.

Setiap air matanya membasahi pipi yang semakin hari semakin keriput, aku mencoba lebih tegar darinya. Ingin rasanya ku berpisah dengan keluarga ini, namun bagaimana dengan nasib wanita ini? Selalu ku urungkan niat ku ketika aku telah melihatnya bekerja keras. Aku tidak pernah menyangka dilahirkan dari seorang wanita kuat dan tegar sepertinya.

Tugas ku disini selalu menjadi penguatnya, membuatnya tersenyum disaat hatinya menangis. Wanita yang benar-benar ku sayangi sampai saat ini, wanita yang rela dimaki suaminya hanya demi aku sang pelita hatinya. Walau sesering apapun aku berbuat salah sesering itu pula dia memaafkan ku. Karna aku kesayangannya dan pelita dalam kehidupannya.

Senin, 18 April 2016

PUISI TERSEMBUNYI DALAM KEHIDUPAN


Kehidupan yang memaksa ku untuk terus berjuang, melupakan semua yang tenggelam dan terus berusaha dalam segala kehidupan. Aku bukanlah wanita tegar disaat cinta menenggelamkan ku dalam kesunyian ini. Hal terindah yang selalu aku harapkan dalam sebuah kisah cinta ku, namun semuanya berbanding terbalik dalam kehidupan ku. Luka tajam yang dia tancapkan begitu dalam, hingga aku tak mampu lagi berdiri tegak. Bukanlah hal yang mudah untuk membuat ku bangkit dalam keterpurukan ini.

Hari ini adalah hari yang paling cerah namun bagi ku ini hari terburuk, hari ini adalah hari dimana aku harus mengawali sebuah kisah manis namun berakhir pahit. Hidup ku bukan hanya untuk menunggunya walau hidup ku kurang sempurna bila tanpanya. Tak ada hal yang paling indah selain dia, namun dia juga bukan satu-satunya dalam hidup ini. Pertemuan yang dulu sangat manis, sebuah kisah yang membuat ku benar-benar ingin berada dalam kisah ini selamanya. Sekarang, jangankan menyapa menatap mata ku saja sekarang dia enggan. Melupakannya? Tidak, aku tidak ingin melupakannya. Karena bagi ku dia adalah bintang kehidupan ku. Mungkin sekarang aku bukan apa-apa dalam hidupnya namun dia adalah segalanya untuk ku.

Dia melupakan aku seakan dulu aku tidak pernah hadir dalam hidupnya, seakan aku bukan hal yang terindah baginya dulu. Sebenarnya apa itu cinta? Mengapa aku hanya mampu mencintai bukan dicintai? Ketegaran ku bukanlah hal yang luar biasa untuk saat ini. Sejak dia pergi dalam hidup ku, aku selalu menyembunyikan kesedihan dalam manisnya senyum ku.

Berusaha bangkit, itulah aku saat ini. Memang sangat sulit membuka lembaran baru tanpanya, membakar semua kenangan manis tetangnya bukanlah hal yang mudah. Bertahun-tahun menjalin hubungan mungkin terbilang serius membuat ku terus terpaku pada satu hal, ya dia adalah alasan ku untuk semua hal. Namun semua usaha ku mempertahannya bagai debu yang tertiup angin malam, cepat hilang dan tidak terlihat mata.

Hati ku masih terkunci namanya namun hari ku tidak berhenti karena dia meninggalkan ku. menyendiri adalah satu hal yang membuat terus mengingatnya. Dalam gelap dan sunyinya malam, lagu indah mengiringi malam ku dengan sedikit terlintas dalam benak ku memori indah dengannya. Disaat hujan datang disaat itu juga aku mulai merasakan kerinduan akan masalalu bersamanya. Aku lebih memilih hujan sebagai teman ku ketika aku merindukannya, karena hujan mampu menghapus air mata kekecewaan ku kepadanya.

Kabarnya mulai menjadi misteri, akupun sudah mulai terbiasa dengan kehidupan ku yang seperti ini. Tekat ku sudah bulat aku mencintainya, aku bahkan rela menggunya namun bukan berarti aku harus terus menggunya. Aku juga memiliki kehidupan lain selain dirinya. Cinta ku padanya akan ku ukir disetiap hela nafas ku. bahkan aku akan tunjukkan bahwa tidak ada wanita hebat yang mencintai mu layaknya diri ku mencintai mu.

Hujan, bawalah aku terbang tinggi hingga aku hanya mampu melihat dirinya. Hujan kau adalah teman ku sejak dia memilih pergi meninggalkan ku. Rintikan hujan mengalir dari kepada sampai kaki ku seakan dia membelai ku dulu. Teringat sebuah kisah yang membuat ku terdiam dalam derasnya hujan. Dia rela kehujan demi membuat ku tetap hangat namun itu hanya cerita dulu. Apakah aku akan terus seperti ini? Terus menerus setiap kali hujan memori itu terus mengelilingi kepala ku. Aku tidak mampu membuka mata dan hati ku untuk yang kedua kalinya lagi. Terlalu pahit kenangan manis ku dulu hingga sampai saat ini aku tidak ingin mengulang semuanya kembali. Tak ada yang bisa menggantikannya dalam hidup ku. Jika aku diizinkan meminta, aku ingin dia kembali dalam pelukan ku. tak ada luka setajam pisah, bahkan tak akan pernah ada air mata yang membasahi pipi ku jika semuanya kembali. Namun itu hanya angan ku, angan semata yang diharapkan hati ku.

Hidup ku belum berakhir mungkin memperjuangkannya adalah akhir dari kisah ku. Kembali atau tidaknya dia dalam hidup ku itu bukan rintangan bagi ku. yang perlu kalian tau, rasa ingin memilikinya kembali itu selalu ada namun rasa cinta dan sayang ku mengalahkan rasa itu. Aku tau cinta tidak harus memiliki melihatnya bahagia juga merupakan kebahagiaan bagi ku. walau aku harus menahan luka dalam tangis ku, aku akan relakan itu semua. Karna dia adalah hal terindah bagi ku.

Menangis dalam derasnya hujan adalah hobi ku saat ini. Hujan mampu menghapus air mata ku, hujan juga mampu menenangkan ku. ya, melihatnya bersama wanita lain memang sakit namun lebih sakit jika harus kembali pada ku tanpa rasa yang kembali juga.

Mencintai dan menunggu dia kembali itulah hal yang sangat menyakitkan namun itulah sebuah kenyataan pahit dalam hidup ku. jika dia memang tak ingin kembali aku mohon beri aku sedikit kekuatan untuk tetap berdiri dengan perasaan yang sama setiap saat walaupun aku harus terus terkikis tajamnya ombak.

Sabtu, 16 April 2016

RASA INI


Mungkinkah aku dapat melawan rasa sakit ini? penyakit yang terus mengerogoti tubuh ku. sudah lebih dari 2 tahun aku menahan rasa sakit ini, sekarang usia ku kurang lebih hampir menginjak 17 tahun. Keyla Flora Ratuhela ya itulah nama ku, nama yang indah untuk gadis yang indah, namun nama itu tak begitu indah untuk hidup ku. tak mudah melawan penyakit ku selama 2 tahun belakangan ini, dan hari ini adalah hari pertama ku bersekolah setelah 1 minggu ku habis waktu ku menginap di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan khusus.

Obat obat dan obat, 1 kata yang membuat ku sudah sangat bosan. Penuh pengawasan setiap kali aku pergi keluar rumah, ya beberapa waktu ini aku benar-benar merasa terkekang. Tapi sudahlah semua dilakukan karena mereka menyayangi ku, dan ini adalah hari pertama ku bersekolah.

                “ flo?? Gimana keadaan kamu “

Baru saja kaki ku kulangkahkan kedepan gerbang sekolah, semua sudah menanyakan hal tersebut.

                “ ya seperti inilah “

                 “ flo? “

Siapa lagi kau bukan gilbard alexandro briand dia adalah satu-satunya teman laki-laki ku disekolah ini. Aku sering memanggilnya briand, menurut ku dia manis dan menurut ku dia tampan juga. Emm ya sudahlah jangan membahas perasaan ku dengannya. Hari ini ku lewati hari bersama teman-temanku seperti biasanya. Tertawa bersama dan berhagia bersama itulah rasa persahabatan yang selalu kami rasakan.

                “ pagi flo? Udah minum obat? “

Hari telah berganti, setiap pagi bertemu dengan ku, dia selalu menanyakan hal tersebut. Hal terindah selama beberapa hari ini, keadaan ku semakin membaik dengan keberadaannya. Aku juga semakin rutin untuk menjalani kontrol dari dokter. Dunia ku berubah 180° sejak dia hadir mewarnai hidup ku.

                “ flo? Aku mau bicara sesuatu dengan mu “

Dia memegang tangan ku dengan sangat hangat, nampaknya dia benar-benar ingin membicarakan hal yang penting. Apakah dia akan meninggalkan ku? tangan ku menjadi dingin karena melihat mukanya yang serius.

                “ flo? Setiap bersama kamu rasanya aku menjadi bahagia, em flo? Bunga ini sebagai tanda kalau aku menyayangi mu, dan maukah kamu jadi pacar ku?”

Seperti apa aku sekarang bukanlah hambatan untuknya, jujur saja aku juga menyayanginya bahkan sejak awal aku bertemu dengannya. Alasan ku menolaknya cukup sulit, hati dan perasaan ku tidak ingin berbohong kepada siapapun.

                “aku bersyukur jika kamu ingin menjadi pacar ku, namun apakah kamu juga ingin memiliki aku dengan keberadaan sakit ku?”

                “aku menyayangi mu apa adanya diri mu bukan karena apapun yang sedang kau alami”

Aku tersenyum melihat jawabannya kali ini dan tanpa basa basi aku menganggukan kepala ku pertanda aku menyetujui pembicaraan kami. Tanpa ku sadari ketika briand memeluk ku hidung ku mulai mimisan lagi.

                “hidung kamu flo?”

Aku segera membersihkan hidung ku dengan tisu. Ya mukanya terlihat khawatir, manis wajahnya semakin terlihat ketika dia membantu membersihkan darah yang mengalir dihidung ku. entah aku harus bahagia atau bagaimana, disisi lain aku sedih karena aku mulai mimisan lagi dan disisi lain lagi aku bahagia karena aku telah memiliki briand dalam hidup ku.

Hari demi hari berlalu 3 bulan sudah ku lalui bersamanya, teman-teman dan keluarga ku. ketika aku mulai tersadar diri ku yang dulu telah berubah. Helai demi helai rambut ku mulai rontok, mungkin sekarang ku belum sepenuhnya menghilang dari kepala ku namun apakah aku akan terus seperti ini? Terapi yang ku jalani menyebabkan ini semua terjadi.

                “flo? Bagaimana keadaan mu saat ini? Apa yang kamu rasain kali ini?”

Dokter selalu menanyakan hal yang sama setiap kali selesai terapi, dan seperti biasanya aku hanya terdiam.

Teman-teman ku mulai mengkhawatirkan tentang keadaan ku termasuk briand yang selama ini menjadi kekasih ku. kalau memang sudah rencana tuhan pasti semuanya akan adil.

Ku jalani hari ku seperti biasanya, ku lalui hari ku seperti biasanya namun yang tidak seperti biasanya adalah ketika briand memberikan ku sebuah kejutan. Kejutan pertama yang telah ia berikan mungkin akan menjadi kejutan terakhir dalam hidup ku.

                “selamat hari jadi kesekian kalinya sayang”

Sekuntum bunga mawar yang ia berikan kepada ku seperti saat pertama kali ia menyatakan perasaannya kepada ku. saat aku menundukkan kepala ku untuk mencium bunga itu, setetes darah jatuh membasahi kelopaknya. Darah mengalir kembali dari hidung ku, ya kepala ku terasa pusing dan semuanya terasa mati rasa. Mata ku mulai berkunang-kunang dan sesaat semuanya menjadi gelap.

Aku dilarikan dirumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Briand mulai terlihat khawatir lagi, dia mencoba menghubungi keluarga ku. sesaat setelah itu kedua orangtua ku datang dan mereka memindahkan ku kerumah sakit biasa aku dirawat.

Kalau aku mampu berharap kembali aku ingin menikmati kebahagian ini kembali namun jika aku tidak dapat merasakannya aku hanya ingin mereka semua tetap dalam kebahagian ini meski tanpa ku. pendarahan hebat mulai ku alami, dan rumah sakit ini sedang kekosongan stok darah yang ku miliki. Golongan darah yang ku memiliki berbeda dengan yang dimiliki kedua orangtua ku.

                “kami membutuhkan golongan darah A+”

Mamah menjadi histeris karena golongan darah yang ia miliki tidak cocok dengan ku. melihat mamah yang seperti itu rasanya aku ikut menangis, aku belum dapat membahagiakannya namun aku malah membuatnya terluka. Kini aku mengalami masa kritis dokter berkata jika hari ini darah tidak didapatkan maka semuanya hanya bisa pasrah.

                “ambil darah saya saja dok”

Siapa lagi kalau bukan pahlawan kesiangan yang selalu menolong ku. mungkin darah kami cocok karena dulu dia bercerita tetang darahnya yang mirip dengan ku. briand langsung bersedia mendonorkan darahnya untuk ku. semua usaha telah mereka lakukan untuk ku, disini aku hanya mampu bertahan berkat kalian.

Jika aku akan dilahirkan kembali jangan beri sakit ini kepada ku lagi, namun jika semua ini tidak terjadi aku akan pasrah dan menitipkan mereka semua. Dokter telah menyalurkan darah itu kedalam ku, responnya cukup baik. Tiga hari sudah aku menjalani masa kritis ini, tubuh ku semakin melemah walau banyak orang yang selalu menyemangati ku. aku ingin berjalan digelapnya malam dan derasnya hujan sendirian tanpa siapapun menemani ku. mungkin disinilah kita akan berpisah, briand aku menyayangi mu namun semua berkehendak lain. Mamah papah aku juga menyayangi kalian apa lagi kalian teman-teman yang selalu memberi semangat kepada ku. detak jantung ku mulai melemah dan disini juga aku akan mendengar isak tangis kalian, maafkanlah aku semuanya.

Dokter telah menyatakan aku telah tiada, tinggallah goresan nama ku kini. Mamah menangis tak henti-hentinya dan briand, seorang briand menangis? Apakah ini mungkin? Dia tampak murung melihat keadaan ku yang sudah tertutup kain. Semua tangisan itu membuat ku tak ingin pergi namun apa boleh aku tak mampu berbuat apa-apa lagi.

Bertahan dalam sebuah imajinasi memang sulit terlebih bertahan dalam kenyataan seperti ini. Aku tidak akan mampu bertahan jika kalian tidak menginginkan ku berada disamping kalian. Penyakit ini bukan rintangan yang sulit untuk ku taklukkan karena kalian selalu bersama ku. terimakasih atas semangat kalian, aku akan mengenang kalian dalam bulatan-bulatan awan besar yang menghiasi mentari dipagi hari. Mungkin aku dan dia hanya untuk saat ini namun cinta kami akan tetap selamanya.