Rain itulah nama ku, sejak dia memutuskan hubungan dengan ku
aku lebih memilih hujan untuk menjadi teman ku. Nama ku adalah kisah indah bagi
ku, hujan selalu memberiku cerita barunya. Sekitar 6 bulan yang lalu aku
dipertemukan dengan seseorang yang pernah aku lihat namun tidak aku kenal. Aku
bertemu dengannya ketika upacara pemakaman salah seorang saudara teman ku,
kebetulan aku tidak tahu menahu tentang jalan menuju pemakamannya, begitu pula
dengannya. Kami basah kuyup diterpa hujan yang begitu lebat. Sampai-sampai dia
mencoba menghubungi salah seorang teman ku. Jeng-jeng dan temannya juga teman
ku, ya semua begitu cepat 6 bulan sudah kami tidak bertemu lagi.
Waktu itu hujan kembali turun, payung ku terbang mengenai
wajah seseorang. Aku sangat malu akan hal ini.
“ maaf
maaf aku enggak sengaja, maaf “
Ku tundukkan kepala ku untuk mengambil payung ku kembali.
“
serasa mengenal mu “
Suara yang ku dengar saat ini hampir mirip dengan suara yang
ku dengar dulu. Aku menjatuhkan payung ku lagi ketika aku melihatnya.
“ kamu?
“
“ bener
kamu, lama enggak ketemu”
Dihujan lebat seperti ini kami malah mengobrol hal yang
tidak jelas dengan udara sedingin ini. Sampai detik ini aku belum mengenalkan,
namanya saja aku belum tahu.
Sampai suatu waktu mempertemukan kami kembali, aku datang
bersama teman-teman ku untuk makan bersama kebetulan dia juga diundang dalam
acara ini. Reyhan ya akhirnya aku tahu namanya, kita mendadak menjadi sering
bertemu karna kebetulan teman-teman sering mengadakan acara.
“ sini
minta pin mu “
“ buat
apa coba? “
“
isi-isi kontak “
Obrolan kami semakin menyatu, kami semakin akrab dan semua
orang tahu akan hal itu.
Dibawah
teriknya matahari dan sedikit awan mendung disebelah utara aku mencoba
menikmati udara kali ini dengan berjalan-jalan. Kepala ku sedit pusing entah
karena apa, pandangan ku juga sedikit kabur.
“ rain?
Hidung mu? “
Aku hanya mampu mendengar suaranya dan aku jatuh pingsan
disabut datangnya hujan. Aku berada jauh dari rumah dan untuk pertama kalinya
aku jatuh pingsan. Aku tidak tahu ada apa dengan kondisi ku, tidak seperti
biasanya keadaan ku seperti ini. UGD? Untuk pertama kalinya aku masuk keruangan
ini. Aku dirawat dengan beberapa selang-selang yang menempel pada tubuh ku.
Kurang lebih 2 hari aku mengalami masa kritis ku, akupun tersadar pada waktu
itu. Hanya ada reyhan yang ada didekat ku, dia tidur dibagian samping tempat
tidur ku. Ku usap kepalanya dengan beberapa pertanyaan yang terfikir dalam
benak ku. Dia terbangun dan langsung mencium tangan ku.
“ kamu
udah sadar? Kamu enggakpapa kan? “
Aku hanya menggelengkan kepala ku, dia mencium kening ku.
Aku terdiam beberapa saat melihat mukanya yang cemas.
“ rey?
“
“ iya
rain? “
“ aku
kenapa? “
Dia terdiam dan nampak bingung mendengar pertanyaan ku. Aku
sakit apa? Aku kenapa? Aku semakin dibuat takut dengan muka panik reyhan.
“
istirahatlah, jangan terlalu mikirkan hal yang tidak penting “
Kurang lebih aku dirawat 5 hari, setelah ini aku
diperbolehkan pulang. Aku sudah tidak sabar ingin melihat hujan ku.
Hari
kepulanga ku datang disaat aku menginjakkan kaki ku kepintu keluar hujan turun.
Mama, papa, dan rayhan berusaha melindungi ku dari hujan.
“ hujan
adalah kehidupan ku, biarkan aku basah terkena hujan “
“ masuk
mobil sayang “
Kali ini semua tidak mengijinkan ku menyentuh apalagi
mendekari hujan. Entah apa yang terjadi aku tidak mengerti sama sekali,
sebenarnya apa yang terjadi pada ku saat ini.
“ rain?
“
“ iya
ma? “
“ jauhi
hujan, jangan pernah hujan-hujan lagi, mama, papa, dan reyhan tidak ingin kamu
kenapa-kenapa, ingat itu rain “
“ tapi
kenapa ma? Rain suka hujan “
“ rain
sudahlah turuti apa kata orang tua mu “
Ini semua semakin enggak jelas dan aneh. Aku semakin dibuat
bingung dengan semua ini. Sejak aku mendadak sakit aku benar-benar jauh dari
hujan, aku hanya mampu memandangi hujan dari sudut jendela kamar ku.
“ ray,
kita dipertemukan ketika hujan datang, namun kenapa sekarang aku harus menjauhi
hujan? Hujan adalah kehidupan ku ray “
Rayhan yang baru saja membuka pintu kamar ku manaruh teh
panas ditangan ku dan mendekap ku.
“ rain,
aku tahu kamu suka hujan, bahkan rasa suka mu terhadap hujan lebih dari
segalanya, tapi dengarkan kami, kami tidak ingin kamu terbaring lagi rain, kami
tidak ingin melihat kamu seperti saat itu lagi rain “
Tanpa sadar aku menjatuhkan teh yang diberikan rayhan kepada
ku, kepala ku mendadak pusing lagi dan penglihatan ku mulai buram lagi, kali
ini aku merasakan ada cairan yang melewati hidung ku.
“ rain
sadar rain, rain “
Samar-samar aku masih mampu mendengar suara rayhan namun
sesaat semua sunyi tanpa suara dan bayangan apapun. Sepertinya sakit ku mulai
parah, aku jadi sering mimisan dan pusing mendadak. Semua kesengan ku terhadap
hujan terbuang sia-sia, kenangan bersamanya juga mengenai hujan. Saat ini aku
siuman lebih cepat dari biasanya, dokter hanya tersenyum setiap kali melihat
ku.
“ rain
jaga kesehatan ya “
Setiap kali aku pergi kerumah sakit kata-kata itu yang
selalu dokter katakan kepada ku. Orang tua ku pergi keluar untuk menemui dokter
dan setiap kali aku tersadar hanya ada rayhan disisi ku.
“ rain?
“
“ ray?
Ada apa dengan ku sebenarnya? Katakan apa yang terjadi dengan ku “
“ rain
jangan menangis seperti ini “
Setiap kali air mata ku menetes rayhan selalu mendekap ku
dan berkata KAMU BAIK-BAIK SAJA. Aku tidak mengerti kenapa semakin hari kondisi
ku terasa semakin lemah.
Hari
berganti, keadaan ku semakin lemah, lebih lemah dari hari sebelumnya. Ya
sekarang berjalan saja aku tidak mampu, kemanapun aku, dimanapun aku, aku
selalu bersama rayhan. Saat itu kami sedang berada ditaman, udaranya cukup
segar seperti terakhir aku kesini sebelum aku keluar masuk rumah sakit.
Ditengah taman aku melihat awan mendung, aku yakin akan turun hujan.
“ rain
aku punya kejutan untuk mu “
Raihan menyembunyikan tangan kanannya dibelakang badannya.
Dikeluarkannya serangkaian bunga mawar yang kini berada ditangan ku, dia
memegang tangan ku dan mengatakan.
“ would
you be marry me? “
“ tapi
ray... “
“ aku
tidak peduli dengan segala kekurangan mu sekarang rain “
Dia mengeluarkan cicin yang begitu indah dari kantongnya,
aku hanya mengganguk dan dia pasangkan cicin itu dijari manis ku.
“ I
LOVE YOU RAIN “
Disaat aku menutup mata hujan turun, rayhan panik karena aku
basah terkena hujan. Kebahagiaan ku disambut dengan hujan. Kami pulang dengan
basah kuyup dan mama mulai memarahi ku. Mama menarik rayhan kedapur, karena
penasaran aku mengikuti mereka.
“
kenapa kalian bisa basah kuyup seperti ini? Apa kamu lupa rain tidak boleh
sampai kehujanan “
“ maaf
tante aku enggak bermaksud membuat rain basah kehujanan, aku tadi mencoba
melamar rain “
“ apa?
“
“ aku
sayang rain tante, aku ingin menyatu dengannya “
“ rain
sakit parah, bahkan keadaannya semakin memburuk, kenapa kamu ingin menikahinya?
Jangan buat tante seperti ini ray “
“ maaf
tante aku yakin rain bisa sembuh “
“ ma
aku sebenernya sakit apa? “
“ rain?
“
“ eee
tante akan ijinkan kamu menikahi rain secepatnya “
“ mama
jawab pertanyaan rain “
“ mama
akan siapkan pesta terbaik untuk kamu “
Mama seperti membisu dengan keadaan ku. Hari pernikahan ku
telah ditentukan akupun lebih sehat hari demi hari. Sampai hari pernikahan aku
tetap semakin pulih, bahkan kini aku sudah mampu berjalan.
“ rain?
Mama dan papa menyayangi kamu “
“ rain
juga ma, pa “
Dengan keadaan ku yang semakin membaik kami melangsungkan pernikahan
dan kami sudah sah menjadi sebuah keluarga baru.
“ aku
bahagia ray “
“ aku
lebih bahagia rain “
Pernikahan kami diadakan diluar gedung, suasana mendung
dengan rintikan hujan menyambut bahagia menyatunya hubungan kami. Penyakit ini
datang begitu saja, kepala ku sakit tidak seperti biasanya. Aku berusaha
menguatkan diri agar tidak jatuh pingsan. Namun usaha ku sia-sia darah
membasahi baju pengantin ku. Hujan turun menjadi sangat lebat, kepala ku
semakin tidak mampu bertahan, penglihatan ku juga menjadi hitam. Jatuh
dipelukan rayhan, mungkin sudah kesekian kalinya. Aku dilarikan kerumah sakit
dengan masih menggunakan baju penggantin ku. Penyakit ini benar-benar datang
disaat yang tidak tepat. Hujan kali ini yang ku rasakan mungkin adalah hujan
terakhir dalam kehidupan ku. Hujan yang paling indah dimana aku telah di
menjalin hubungan keluarga dengan orang yang telah tulus mencintai ku.
Terimakasih hujan atas semua memori tentang semua ini, aku akan selalu ingat
masa indah saat bersamanya ketika kau juga menemani kami hujan. Sampai nafas
terakhir ku ini hujan selalu mendampingin ku.
“ maaf
kami sudah berusaha namun rain tidak bisa kami selamatkan “
“
rain!!! “
Teriakan itu masih terdengar walau nafas ini sudah tidak
mampu menghirup udara lagi. Hujan memberiku sebuah cerita tentang masalalu dan
hujan yang selalu menemani ku disaat ketepurukan itu. Hujan adalah nama ku dan
hujan adalah cerita ku. Selamat tinggal hujan, terimasih atas segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar