Selasa, 09 Agustus 2016

RAIN



Rain itulah nama ku, sejak dia memutuskan hubungan dengan ku aku lebih memilih hujan untuk menjadi teman ku. Nama ku adalah kisah indah bagi ku, hujan selalu memberiku cerita barunya. Sekitar 6 bulan yang lalu aku dipertemukan dengan seseorang yang pernah aku lihat namun tidak aku kenal. Aku bertemu dengannya ketika upacara pemakaman salah seorang saudara teman ku, kebetulan aku tidak tahu menahu tentang jalan menuju pemakamannya, begitu pula dengannya. Kami basah kuyup diterpa hujan yang begitu lebat. Sampai-sampai dia mencoba menghubungi salah seorang teman ku. Jeng-jeng dan temannya juga teman ku, ya semua begitu cepat 6 bulan sudah kami tidak bertemu lagi.
Waktu itu hujan kembali turun, payung ku terbang mengenai wajah seseorang. Aku sangat malu akan hal ini.
                “ maaf maaf aku enggak sengaja, maaf “
Ku tundukkan kepala ku untuk mengambil payung ku kembali.
                “ serasa mengenal mu “
Suara yang ku dengar saat ini hampir mirip dengan suara yang ku dengar dulu. Aku menjatuhkan payung ku lagi ketika aku melihatnya.
                “ kamu? “
                “ bener kamu, lama enggak ketemu”
Dihujan lebat seperti ini kami malah mengobrol hal yang tidak jelas dengan udara sedingin ini. Sampai detik ini aku belum mengenalkan, namanya saja aku belum tahu.
Sampai suatu waktu mempertemukan kami kembali, aku datang bersama teman-teman ku untuk makan bersama kebetulan dia juga diundang dalam acara ini. Reyhan ya akhirnya aku tahu namanya, kita mendadak menjadi sering bertemu karna kebetulan teman-teman sering mengadakan acara.
                “ sini minta pin mu “
                “ buat apa coba? “
                “ isi-isi kontak “
Obrolan kami semakin menyatu, kami semakin akrab dan semua orang tahu akan hal itu.
                Dibawah teriknya matahari dan sedikit awan mendung disebelah utara aku mencoba menikmati udara kali ini dengan berjalan-jalan. Kepala ku sedit pusing entah karena apa, pandangan ku juga sedikit kabur.
                “ rain? Hidung mu? “
Aku hanya mampu mendengar suaranya dan aku jatuh pingsan disabut datangnya hujan. Aku berada jauh dari rumah dan untuk pertama kalinya aku jatuh pingsan. Aku tidak tahu ada apa dengan kondisi ku, tidak seperti biasanya keadaan ku seperti ini. UGD? Untuk pertama kalinya aku masuk keruangan ini. Aku dirawat dengan beberapa selang-selang yang menempel pada tubuh ku. Kurang lebih 2 hari aku mengalami masa kritis ku, akupun tersadar pada waktu itu. Hanya ada reyhan yang ada didekat ku, dia tidur dibagian samping tempat tidur ku. Ku usap kepalanya dengan beberapa pertanyaan yang terfikir dalam benak ku. Dia terbangun dan langsung mencium tangan ku.
                “ kamu udah sadar? Kamu enggakpapa kan? “
Aku hanya menggelengkan kepala ku, dia mencium kening ku. Aku terdiam beberapa saat melihat mukanya yang cemas.
                “ rey? “
                “ iya rain? “
                “ aku kenapa? “
Dia terdiam dan nampak bingung mendengar pertanyaan ku. Aku sakit apa? Aku kenapa? Aku semakin dibuat takut dengan muka panik reyhan.
                “ istirahatlah, jangan terlalu mikirkan hal yang tidak penting “
Kurang lebih aku dirawat 5 hari, setelah ini aku diperbolehkan pulang. Aku sudah tidak sabar ingin melihat hujan ku.
                Hari kepulanga ku datang disaat aku menginjakkan kaki ku kepintu keluar hujan turun. Mama, papa, dan rayhan berusaha melindungi ku dari hujan.
                “ hujan adalah kehidupan ku, biarkan aku basah terkena hujan “
                “ masuk mobil sayang “
Kali ini semua tidak mengijinkan ku menyentuh apalagi mendekari hujan. Entah apa yang terjadi aku tidak mengerti sama sekali, sebenarnya apa yang terjadi pada ku saat ini.
                “ rain? “
                “ iya ma? “
                “ jauhi hujan, jangan pernah hujan-hujan lagi, mama, papa, dan reyhan tidak ingin kamu kenapa-kenapa, ingat itu rain “
                “ tapi kenapa ma? Rain suka hujan “
                “ rain sudahlah turuti apa kata orang tua mu “
Ini semua semakin enggak jelas dan aneh. Aku semakin dibuat bingung dengan semua ini. Sejak aku mendadak sakit aku benar-benar jauh dari hujan, aku hanya mampu memandangi hujan dari sudut jendela kamar ku.
                “ ray, kita dipertemukan ketika hujan datang, namun kenapa sekarang aku harus menjauhi hujan? Hujan adalah kehidupan ku ray “
Rayhan yang baru saja membuka pintu kamar ku manaruh teh panas ditangan ku dan mendekap ku.
                “ rain, aku tahu kamu suka hujan, bahkan rasa suka mu terhadap hujan lebih dari segalanya, tapi dengarkan kami, kami tidak ingin kamu terbaring lagi rain, kami tidak ingin melihat kamu seperti saat itu lagi rain “
Tanpa sadar aku menjatuhkan teh yang diberikan rayhan kepada ku, kepala ku mendadak pusing lagi dan penglihatan ku mulai buram lagi, kali ini aku merasakan ada cairan yang melewati hidung ku.
                “ rain sadar rain, rain “
Samar-samar aku masih mampu mendengar suara rayhan namun sesaat semua sunyi tanpa suara dan bayangan apapun. Sepertinya sakit ku mulai parah, aku jadi sering mimisan dan pusing mendadak. Semua kesengan ku terhadap hujan terbuang sia-sia, kenangan bersamanya juga mengenai hujan. Saat ini aku siuman lebih cepat dari biasanya, dokter hanya tersenyum setiap kali melihat ku.
                “ rain jaga kesehatan ya “
Setiap kali aku pergi kerumah sakit kata-kata itu yang selalu dokter katakan kepada ku. Orang tua ku pergi keluar untuk menemui dokter dan setiap kali aku tersadar hanya ada rayhan disisi ku.
                “ rain? “
                “ ray? Ada apa dengan ku sebenarnya? Katakan apa yang terjadi dengan ku “
                “ rain jangan menangis seperti ini “
Setiap kali air mata ku menetes rayhan selalu mendekap ku dan berkata KAMU BAIK-BAIK SAJA. Aku tidak mengerti kenapa semakin hari kondisi ku terasa semakin lemah.
                Hari berganti, keadaan ku semakin lemah, lebih lemah dari hari sebelumnya. Ya sekarang berjalan saja aku tidak mampu, kemanapun aku, dimanapun aku, aku selalu bersama rayhan. Saat itu kami sedang berada ditaman, udaranya cukup segar seperti terakhir aku kesini sebelum aku keluar masuk rumah sakit. Ditengah taman aku melihat awan mendung, aku yakin akan turun hujan.
                “ rain aku punya kejutan untuk mu “
Raihan menyembunyikan tangan kanannya dibelakang badannya. Dikeluarkannya serangkaian bunga mawar yang kini berada ditangan ku, dia memegang tangan ku dan mengatakan.
                “ would you be marry me? “
                “ tapi ray... “
                “ aku tidak peduli dengan segala kekurangan mu sekarang rain “
Dia mengeluarkan cicin yang begitu indah dari kantongnya, aku hanya mengganguk dan dia pasangkan cicin itu dijari manis ku.
                “ I LOVE YOU RAIN “
Disaat aku menutup mata hujan turun, rayhan panik karena aku basah terkena hujan. Kebahagiaan ku disambut dengan hujan. Kami pulang dengan basah kuyup dan mama mulai memarahi ku. Mama menarik rayhan kedapur, karena penasaran aku mengikuti mereka.
                “ kenapa kalian bisa basah kuyup seperti ini? Apa kamu lupa rain tidak boleh sampai kehujanan “
                “ maaf tante aku enggak bermaksud membuat rain basah kehujanan, aku tadi mencoba melamar rain “
                “ apa? “
                “ aku sayang rain tante, aku ingin menyatu dengannya “
                “ rain sakit parah, bahkan keadaannya semakin memburuk, kenapa kamu ingin menikahinya? Jangan buat tante seperti ini ray “
                “ maaf tante aku yakin rain bisa sembuh “
                “ ma aku sebenernya sakit apa? “
                “ rain? “
                “ eee tante akan ijinkan kamu menikahi rain secepatnya “
                “ mama jawab pertanyaan rain “
                “ mama akan siapkan pesta terbaik untuk kamu “
Mama seperti membisu dengan keadaan ku. Hari pernikahan ku telah ditentukan akupun lebih sehat hari demi hari. Sampai hari pernikahan aku tetap semakin pulih, bahkan kini aku sudah mampu berjalan.
                “ rain? Mama dan papa menyayangi kamu “
                “ rain juga ma, pa “
Dengan keadaan ku yang semakin membaik kami melangsungkan pernikahan dan kami sudah sah menjadi sebuah keluarga baru.
                “ aku bahagia ray “
                “ aku lebih bahagia rain “
Pernikahan kami diadakan diluar gedung, suasana mendung dengan rintikan hujan menyambut bahagia menyatunya hubungan kami. Penyakit ini datang begitu saja, kepala ku sakit tidak seperti biasanya. Aku berusaha menguatkan diri agar tidak jatuh pingsan. Namun usaha ku sia-sia darah membasahi baju pengantin ku. Hujan turun menjadi sangat lebat, kepala ku semakin tidak mampu bertahan, penglihatan ku juga menjadi hitam. Jatuh dipelukan rayhan, mungkin sudah kesekian kalinya. Aku dilarikan kerumah sakit dengan masih menggunakan baju penggantin ku. Penyakit ini benar-benar datang disaat yang tidak tepat. Hujan kali ini yang ku rasakan mungkin adalah hujan terakhir dalam kehidupan ku. Hujan yang paling indah dimana aku telah di menjalin hubungan keluarga dengan orang yang telah tulus mencintai ku. Terimakasih hujan atas semua memori tentang semua ini, aku akan selalu ingat masa indah saat bersamanya ketika kau juga menemani kami hujan. Sampai nafas terakhir ku ini hujan selalu mendampingin ku.
                “ maaf kami sudah berusaha namun rain tidak bisa kami selamatkan “
                “ rain!!! “
Teriakan itu masih terdengar walau nafas ini sudah tidak mampu menghirup udara lagi. Hujan memberiku sebuah cerita tentang masalalu dan hujan yang selalu menemani ku disaat ketepurukan itu. Hujan adalah nama ku dan hujan adalah cerita ku. Selamat tinggal hujan, terimasih atas segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar