Selasa, 09 Agustus 2016

BUNDA



Tangan yang mungkin sudah tidak mungkin melakukan pekerjaan keras dan tubuh yang semakin menua. Dia bekerja keras demi sebuah kata “keluarga” , keluarga yang belum tentu membuatnya bahagia, keluarga yang belum tau apa arti kerja kerasnya, dan keluarga yang belum tentu tau bagaimana rasanya menjadi dia.

Rambutnya yang mulai memutih diusianya yang mulai senja membuat ku berpikir dua kali, apakah layak seorang anak membentak orangtua setegar dia. Dia bekerja keras setiap hari, memberi makan keluarga hanya dengan nafkah 15.000,- setiap hari dari suaminya. Hati ku semakin kecil dan mengurungkan niat ku untuk marah padanya.

Pagi itu karna terburu-buru aku membentaknya, aku hanya memikirkan ego ku saja, aku tidak memikirkan bagaimana hati kecilnya terluka mendengar perkataan ku. Belum sempat ku katakan maaf sepertinya dia melupakan hal tersebut. Bagi ku dia adalah malaikat tanpa sayap, dia berjuang sendirian demi kedua anaknya yang semakin hari semakin tumbuh besar. Tanpa memikirnya bagaimana sikap suaminya yang semaunya sendiri dia mencoba tegar. Sering ku dengar pertengkaran mereka, saat itu usia ku baru menginjak 12 tahun, setiap ku dengar pertengkaran mereka aku tak pernah pulang kerumah. Ya, hanya sosoknya yang mencari ku, mencari keberadaan ku. Setelah itu ku sadari bahwa dia tulus menyayangi ku dan hanya aku sandaran penguat dalam hidupnya.

Setiap air matanya membasahi pipi yang semakin hari semakin keriput, aku mencoba lebih tegar darinya. Ingin rasanya ku berpisah dengan keluarga ini, namun bagaimana dengan nasib wanita ini? Selalu ku urungkan niat ku ketika aku telah melihatnya bekerja keras. Aku tidak pernah menyangka dilahirkan dari seorang wanita kuat dan tegar sepertinya.

Tugas ku disini selalu menjadi penguatnya, membuatnya tersenyum disaat hatinya menangis. Wanita yang benar-benar ku sayangi sampai saat ini, wanita yang rela dimaki suaminya hanya demi aku sang pelita hatinya. Walau sesering apapun aku berbuat salah sesering itu pula dia memaafkan ku. Karna aku kesayangannya dan pelita dalam kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar