Senin, 20 Desember 2021

Jika ada 2 pilihan kenapa tidak mencoba pilihan kedua?

 Hai, ini dia kisah ku..

Aku renata raflesia, awal kisah ku biasa saja sejak aku memutuskan untuk kuliah disalah satu kota tetangga semua kisah ku berubah. Aku memilih LDR dari kekasih ku karna alasan cita-cita, tak banyak yang tau kami telah bertunangan. Ya dan disinilah aku, Yogyakarta, kota nyaman dengan 1000 mahasiswa dari seluruh nusantara, dia salah satunya. Reoslan Ananta mahasiswa dari kota Solo yang sedikit membuat ku memperhatikannya, dia laki-laki yang biasa saja awal pertemuan ku dengannya juga biasa saja namun tak pernah ku sangka aku memilih jurusan dan kelas yang sama persis dengannya, jurusan bahasa. Tepatnya hari kedua setelah kami bertemu dia memperhatikan ku, aku hanya meresponnya biasa saja seperti layaknya semua laki-laki dikelas, karna posisi ku bukan lagi perempuan single, aku sudah memiliki tunangan yang jauh disana. Kami mulai menghabiskan waktu bersama karna beberapa hal, sampai dia mengatakan bahkan dia mencintai ku. Dengan bodohnya aku bisa membuatnya jatuh cinta kepada ku. Aku diterpa kebingungan bagaimana cara ku menyampaikan kepadanya bahwa aku sudah bertunangan? Aku menjauh darinya, sengaja menghindarinya, bahkan mencoba menghilang darinya. Tetapi tanpa aku tau dia telah menyiapkan sebuah kejutan sederhana untuk ku. Dia memberi ku sebuah buket bunga untuk menyatakan perasaannya kepada ku. Dihadapan semua orang dia mengatakan bahwa dia ingin menjadi kekasih ku, kali ini aku benar-benar tidak bisa menolaknya dengan terpaksa aku menerima perasaannya. Hari ku selalu dipenuhi dengan senyumannya, sampai dia melihat cincin yang melingkar dijari ku. Ya, aku tidak bisa berbohong lagi, dia harus tau segalanya tentang aku. Bukan hanya latar belakang kehidupan ku tetapi semua kisah cinta ku. Aku mulai jujur bahwa aku sudah bertunangan, awalnya aku pikir dia akan marah mengetahui tentang ini semua tetapi tidak peduli sama sekali. Dia hanya tersenyum kecil dan mengatakan disana aku adalah tunangannya dan disini aku adalah miliknya. Hati ku bergetar melihat keangkuhannya, keegoisannya ingin memiliki ku membuat aku mulai menyangkal adannya tunangan ku. Kata manisnya yang selalu aku ingat menembel lembut dalam benak ku, bahkan tingkah konyolnya saat dia berhari-hari tidak ada kabar.Semua ingatan itu tergambar jelas dan benar-benar terlukis indah bahkan jika ini mimpi aku seakan enggan untuk bangun dalam mimpi ini. Aku tidak pernah mencurigainya ketika dia hilang tanpa kabar, dia sering mengatakan HP yang dia gunakan rusak, ya sudah aku percaya begitu saja dengannya. Dia hilang seminggu tanpa masuk kelas akupun percaya bahwa dia sedang berada dikota yang berbeda dengan ku saat ini, dia hilang lagi mungkin sekitar 2-3 minggu ini dan hebat aku juga tidak pernah mencarinya karna aku percaya sepenuhnya dengannya. Untuk beberapa alasan aku sedikit ragu terhadapnya karna aku seakan dimanfaatkan, tapi untuk alasan lain aku juga yakin dia tidak mempermainkan perasaanku karna resiko yang aku ambil begitu besar. Setiap dia hilang ingin hati mencarinya namun aku yakin dengannya, aku mempercayainya melebihi apapun, ketika aku sibuk mencarinya aku juga mengabaikan tunangan ku sendiri. Ya, dengan alasan banyak tugas dan juga kelas, tunangan ku semakin ku abaikan karna aku menunggu perhatian dari kekasihku. Sampai aku tidak yakin dengan seribu alasan yang dia buat untuk ku kali ini, aku mencoba menelponnya berkali-kali tetapi sama sekali tidak tersambung. Dia mengatakan bahwa dia sedang berada dirumah dan tidak dalam kondisi baik sehingga dia tidak bisa berkuliah sampai minggu depan. Dan akupun pasrah akan keadaan ini, toh aku juga berpikir bahwa diriku memiliki tunangan yang tidak mungkin aku abaikan terus menerus. Seminggu kemudian dia datang kekelas dengan membawa sebatang coklat dan sepucuk harapan lagi. Bagaimana aku bisa menolak sikapnya karena dia berbanding terbalik dengan tunangan ku tetapi disisi lain aku juga bisa merasakan penderitaan tunangan ku saat aku membohonginya. Hari-hari ku kembali seperti semula, dia yang menjadi kekasih ku dan dia yang disana menjadi tunangan ku. Sore ini kami berjanji akan bertemu disebuah kafe yang mungkin terbilang romantis. Sore itu aku sudah menunggunya untuk menjumput ku, dia tidak menghubungi sejak kelas berakhir tadi dan aku mencoba menelponnya, dia beralasan masih menunggu teman kosnya, sampai tepat pukul 10 malam aku memutuskan untuk kembali masuk kos karena tidak mungkin juga aku keluar. Malam itu dia meminta maaf berkali-kali, lagi, lagi, dan lagi. Aku mulai bosan dengan tingkahnya, karena menurut ku percuma saja aku memiliki tunangan jauh disana dan kekasih disini namun keduanya sama-sama jauh. Ya, sejak saat itu kami jarang menghabiskan waktu bersama, aku memilih enggan bertemu dengannya diluar jam kelas karna menurut ku, aku sudah berkorban perasaan tunangan ku sedangkan kekasih yang aku perjuangkan tidak peduli dengan pengorbanan yang aku berikan. Waktu demi waktu berlalu kami seakan semakin jauh namun tetap saling peduli, malam nanti dia ingin mengajak ku makan bersama seperti dulu. Aku sempat berpikir berulang-ulang tentang hal ini dan aku mengiyakan ajakkannya. Masih teringat jelas pukul 16.00 aku sudah mengajaknya keluar namun dia bilang masih sibuk, setelah lewat jam tersebut aku tidak bisa mengubunginya lagi. Seperti harapan ku sia-sia, atau mungkin aku saja yang terlalu berharap berlebihan. Tidur? tidak mungkin aku bisa tidur malam ini, dari ketiga nomer telfonnya tidak satupun bisa dihubungi. Lewat tengah malam dia merespon pesan ku, namun cukup aku herankan dia bertanya aku siapa. Antara bingung dan juga malas merespon kembali pesan tersebut. Dan tidak ku sangka dia mengirim pesan sebanyak 5-8 kali. Ya, antara senang dan bingung tetapi setelah aku melihat pesannya aku terheran-heran karena pesan itu bukan darinya melainkan dari tunangannya. Jadi selama ini siapa yang berselingkuh dan siapa yang jadi selingkuhan? batin ku seakan terusik dan semakin tidak karuan. Dia meminta ku untuk menghapus nomernya dan menghilang dari hidupnya, sebenarnya siapa yang jadi korban? aku atau dia? atau mungkin tidak keduanya. Aku merasa jadi wanita paling bodoh karna mengabaikan tunangan ku demi laki-laki pembohong yang juga telah memiliki tunangan. Semuanya hancur, pecah, bahkan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Ingin menangis, ingin mengadu tapi kepada siapa? tunangan ku? apa kalau bukan bunuh diri? dasar bodohnya aku tidak bisa membedakan mana yang benar-benar serius dan mana yang hanya memanfaatkan.