Aku berjalan dalam duka mendalam hampir 3 tahun belakangan ini. Aku veronika, veronika aurora leonada putri yuzua itu nama ku nama terindah dari kedua orangtua ku. Dalam hal cinta mungkin aku adalah orang paling bodoh didunia, karena bertahan hanya demi cinta sepihak saja. Aku dihajar, dipukul, dijambak, bahkan aku hampir dibunuh, tapi entah kenapa aku masih saja mau bertahan. Aku sangat menyayanginya, hinga rasa sakit ini tergantikan begitu saja. Geraydi dia adalah laki-laki pujaan hati ku, hingga akupun tak ingin melepaskannya begitu saja.
Hari berlalu terkadang dia sayang terkadang dia membuat luka itu kembali. Terkadang aku hancur dan terkadang rasa cinta itu datang kembali. Setiap aku tidak bicara, tidak menurut, bahkan diam, dia terus saja menyiksa ku. Batin ku tersiksa, namun aku hanya bisa diam, diam dan terus diam karena rasa cinta ini. Tangan ku terluka, muka ku lebam, rahang ku patah, bahkan aku seperti orang gila sekarang.
Sudah lebih dari 2 tahun aku bersamanya, dan sudah berkali-kali juga dia berselingkuh dari ku. Waktu itu usia ku benar-benar dini sekali, dibawah 17 tahun lebih jelasnya. Ya, dan aku sudah mendapatkan perilaku tak wajar diusia ku yang masih dibawah umur. Tepatnya tahun ke 3 aku bersamanya, dia membenturkan kepala ku ketembok dan mencakar kedua tangan ku, dia juga memukul pipi ku. Aku membulatkan tekat ku untuk mengatakan kepada kedua orangtua ku.
Kedua orangtua ku terheran sudah 2 hari aku tidak keluar dari kamar. Dan merekapun curiga terhadap perilaku ku saat itu. Berulang kali mereka mengetuk pintu kamar ku, dan dengan berat hati aku keluar kamar sambil menjulurkan bekas luka yang ada apa kedua tangan ku. Mereka menangis, marah, kecewa, dan hancur melihat ku seperti ini. Mereka memeluk ku, mencoba menegarkan, menguatkan ku dan membuat ku bangun kembali.
Hari berikutnya atas perilakunya kedua orangtua ku tidak terima, dan melakukan visum. Ya, kehidupan ku perlahan hancur begitu saja. Setelah visum tersebut dia mengancam ku, merampas ponsel ku dan juga hidup ku. Dia seolah-oleh menunjukkan rasa cintanya, dia menggores tangannya berkali-kali membuat ku luluh kembali.
Ya, dia berselingkuh lagi dan aku menggores tangan ku juga. Dia semakin kasar dan ingin mengakhiri segalanya karena muak dengan ku. Apakah dia berpikir bagaimana aku jungkir balik mempertahankannya? Aku rela dimaki, dibentak, dipukul, bahkan sampai mengancam hidup ku dan melawan kedua orangtua ku. Aku terluka sampai aku sudah kehilangan akal ku dan ingin membunuh jiwa ku. Berkali-kali juga aku menggores tangan ku, sampai entah sebanyak apa darah yang aku keluarkan.
Kini aku menjalani masa kritis karena hal ini, kehidupan asmara ku hancur. Trauma membekas keras dalam ingatan ku seakan enggan beralih dari segala arah. Aku depresi berat dan tak ingin kehidupan itu kembali, termenung, terdiam dan tidak ingin diganggu itulah aku.